Setiap orang tua adalah guru bagi anak-anaknya. Ini sering dilupakan banyak orang. Ketika berpikir tentang pendidikan, orang langsung berpikir tentang sekolah. Mendidik anak adalah soal bagaimana mengirim anak-anak ke sekolah yang bagus, agar mereka mendapat pendidikan yang baik. Anak-anak belajar dari guru mereka di sekolah. Padahal peran terpenting dalam pendidikan anak harus diambil oleh orang tua. Artinya, orang tua harus mengambil bagian terpenting dalam proses pendidikan itu, dengan menjadi guru bagi anak-anaknya.

Apakah itu berarti kita tidak usah mengirim anak ke sekolah? Tidak demikian. Home schooling memang menjadi satu cara mendidik anak. Tapi kalau kita memilih untuk menyekolahkan anak, bukan berarti kita lantas tidak berperan. Kita harus mendampingi anak-anak pada setiap pelajaran yang mereka lalui, khususnya pada usia dini.

Mengapa ini perlu? Pertama, sistem pelajaran di sekolah bersifat massal. Guru tidak punya cukup waktu dan tenaga untuk membimbing siswa satu per satu. Kalau ada anak yang tertinggal, ia akan dipaksa untuk mengejar ketertinggalannya. Guru tidak akan memberi bimbingan yang sifatnya pribadi. Bagian ini menjadi tanggung jawab orang tua. Orang tua harus membimbing anak berbasis pada pemahaman ia tentang watak dan potensi pribadi anaknya. Hanya ia yang bisa menyelami kesulitan anaknya.

Kedua, belajar bersama adalah waktu penting untuk berkomunikasi dengan anak. Dari situ orang tua akan bisa mendeteksi potensi dan kelemahan anak. Dengan begitu ia bisa bersikap tepat dalam membimbingnya. Ketiga, anak-anak cenderung mencontoh dan mengidolakan orang tuanya. Ini adalah modal penting untuk memberi motivasi kepada anak-anak.

Banyak orang tua membimbing sendiri anak-anak dalam pelajaran sekolahnya. Tidak hanya berlajar menekuni buku, kami melakukan berbagai percobaan sains. Mereka lakukan ini agar kegiatan belajar menjadi menarik, sehingga bisa merangsang minat anak untuk ingin tahu lebih banyak. Anjuran ini kerap mendapat kritikan dari orang lain. Orang tua yang biasa mendampingi anaknya belajar akan mengenal level berpikir dan pengetahuan anaknya, sehingga ia bisa menilai apakah anak ini sudah siap untuk menerima suatu pelajaran atau belum.

Intinya, kita bisa mulai menjadi guru bagi anak-anak kita dalam hal yang kita bisa. Dalam hal yang kita tidak bisa, kita harus belajar. Masalahnya adalah, banyak orang sudah memvonis diri mereka tidak bisa, sebelum ia memulai sama sekali. Dalam hal ini, sebenarnya lebih tepat mereka disebut tidak mau, ketimbang tidak bisa.