Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat memiliki peran yang penting dalam pendidikan anak. Keluarga menjadi sekolah pertama bagi anak; suatu lingkungan dimana anak mulai mengenal interaksi dan sosialisasi dengan orang lain. Anak belajar untuk berbicara, bekerja sama, beretika dan bersopan santun dengan anggota keluarga di rumah. Kemudian, kebiasaan itu akan menetap dan dibawa  oleh anak saat ia berada di lingkungan luar rumah seperti sekolah, tempat bermain, ruang publik dan lainnya.

          Setiap keluarga memiliki latar belakang dan kondisi yang berbeda-beda. Pengasuhanorangtua dalam keluarga yang tinggal di kota besar memiliki perbedaan dengan keluarga yang tinggal di desa. Cara pengasuhan orangtua di tahun 1980-an dengan tahun 2000-an juga sudah mengalami perubahan. Hal ini menegaskan bahwa pola asuh tidak bersifat kaku atau baku, melainkan perlunya dilakukan penyesuaian dengan kondisi dan kebutuhan anak di keluarga masing-masing. Namun, ada satu hal yang tidak berubah yaitu orangtua menjadi model pembelajaran bagi anak-anaknya.

          Anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Lingkungan yang akan diamati dan ditiru adalah perilaku orang-orang di sekitarnya, yaitu orangtuanya. Hal ini berarti bahwa orangtua menjadi figur guru yang mendidik dan mengajar sekaligus menjadi teladan (role model) utama bagi anak. Apabila orangtua menunjukkan hal-hal yang baik dan sopan, maka anak cenderung mengerjakan hal yang serupa. Demikian pula sebaliknya.

          Lingkungan juga akan merespon atau menanggapi perilaku meniru yang dilakukan anak dengan hadiah atau sanksi. Jika anak memperoleh hadiah sebagai dampak dari peniruan yang dia lakukan, maka anak akan cenderung melanjutkan perilaku tersebut. Sebaliknya, bila anak dihukum atas suatu perilaku, maka anak akan cenderung menghentikannya. Misalnya, anak yang mendapat pujian karena memberi salam dengan sopan cenderung mengulanginya di kemudian hari. Sedangkan anak yang dihukum karena memukul temannya cenderung akan menghentikan perilaku tersebut.

          Langkah pertama adalah harus menjadi teladan bagi sang buah hati. Orangtua perlu konsisten dalam mengerjakan hal-hal yang disampaikan pada anaknya.  Misalnya, apabila orangtua menerapkan disiplin bangun pagi untuk anak, maka orangtua lebih dulu menunjukkannya sehingga anak dapat mengamati dan menirukan perilaku tersebut. Dengan demikian, anak tidak menjadi bingung atau dilema dengan adanya perbedaan antara apa yang dikatakan dan dilakukan oleh orangtuanya.

          Orang tua juga harus dapat memenuhi kebutuhan dan aspirasi anak. Orangtua perlu konsisten dalam mengerjakan hal-hal yang disampaikan pada anaknya.  Misalnya, apabila orangtua menerapkan disiplin bangun pagi untuk anak, maka orangtua lebih dulu menunjukkannya sehingga anak dapat mengamati dan menirukan perilaku tersebut. Dengan demikian, anak tidak menjadi bingung atau dilema dengan adanya perbedaan antara apa yang dikatakan dan dilakukan oleh orangtuanya.

           Orang tua juga harus melatih kedisiplinan sang anak. Selain mengembangkan kedekatan emosional dengan anak, orangtua juga perlu melatih kedisiplinan dan tanggung jawab anak. Kedisplinan menumbuhkan sikap mandiri dan tanggung jawab yang akan membantu mempersiapkan anak memasuki tahap perkembangan berikutnya. Misalnya, disiplin bangun pagi, menjaga kebersihan, mengerjakan pekerjaan di rumah, dan lain sebagainya.