Kondisi keluarga akan sangat berpengaruh pada anak. Kondisi keluarga yang harmonis serta selalu bahagia tentunya akan berpengaruh positif pada perkembangan psikologis anak. Berbanding terbalik jika kondisi keluarga mengalami perpercahan atau broken home. Tentu saja dampak negatif akan sangat dirasakan dalam perkembangan anak.

Banyak faktor yang menyebabkan kondisi broken home terjadi di dalam sebuah keluarga, mulai dari perceraian kedua orang tua, sikap orang tua yang kurang dewasa dan bertanggung jawab, kurangnya nilai-nilai agama di dalam keluarga, masalah ekonomi, hilangnya keharmonisan di dalam keluarga, dan masih banyak lainnya. Banyak dampak yang dapat terjadi pada anak jika mereka terjebak dalam kondisi keluarga broken home.

Pertama adalah anak akan rentan mengalami gangguan psikis. Akibat kondisinya yang selalu berada di dalam tekanan, maka akan membuat pengaruh yang cukup besar dalam kondisi anak. Sehingga tak heran jika anak-anak yang mengalami broken home akan kerap mengalami gangguan-gangguan psikologis, mulai dari rasa ketakutan, kecemasan, selalu merasa serba salah, selalu dirundung sedih, menyendiri, dan lainnya.

Anak juga dapat membenci kedua orangtuanya. Karena kondisi mental yang masih sangat labil, dapat membuat anak-anak yang berada di dalam lingkungan broken home dapat membenci kedua orang tuanya. Mereka belum memahami tentang hal yang terjadi di dalam keluarga, bahkan belum dapat menerima kondisi yang sebenarnya terjadi. Sehingga mereka akan menganggap jika semua hal yang terjadi merupakan kesalahan dari salah satu ataupun kedua orang tuanya.

Selanjutnya adalah anak akan sulit mendapat teman dan sulit untuk bergaul. Banyak kasus dalam broken home membuat anak menjadi cenderung menutup diri dengan lingkungannya sehingga membuat anak akan menarik diri dari lingkungan pergaulan dikarenakan rasa rendah diri yang dimilikinya. Karena kurangnya perhatian orang tua, maka menyebabkan anak tidak terbiasa untuk berbagi cerita ataupun mengekspos diirnya dengan orang lain. Akibatnya anak akan kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.

Anak juga akan mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Ketika kondisi rumah dan keluarga menjadi tidak nyaman, maka anak akan berusaha untuk mencari tempat lainnya yang dijadikan sebagai tempat saling berbagi dan menghibur dirinya. Saat kondisi seperti ini, maka teman-teman sepermainannya akan menjadi tujuan sebagai pengganti keluarga. Jika lingkungan pertemanannya kurang baik, maka tentu saja anak akan sangat mudah terpengaruh untuk melakukan perilaku menyimpang sebagai pelarian untuk mendapatkan kebahagiaan.

Dampak dalam bidang akademisnya adalah anak akan sulit untuk berprestasi. Dampak lainnya yang sering terjadi pada anak yang mengalami broken home adalah pada hal akademiknya. Permasalahan di dalam rumah akan membuat anak menjadi malas belajar. Terlebih jika tidak adanya support dari kedua orang tua. Tentu saja menyebabkan anak tidak memiliki keinginan untuk berprestasi. Tentu saja hal ini akan berbeda dengan anak-anak yang berasal dari keluarga harmonis yang lebih memiliki motivasi dalam belajar.

Dan yang paling parah adalah anak dapat menjadi stress bahkan dapat mengalami gangguan kejiwaan. Menurut penelitian pada London Institue of Psychiatry menjelaskan jika anak yang  berada di dalam kondisi keluarga kurang harmonis maka akan berpotensi besar untuk mengidap gangguan-gangguan psikologis semisal skizofrenia.